Belajar dari Sahabat Salman al-Farisi dan Abu Darda

Sesaat setelah Rasulullah Muhammad saw hijrah ke Madinah, beliau dihadapkan pada berbagai masalah sebagai dampak hijrah itu sendiri. Satu diantaranya adalah menata relasi sosio kultural dan ekonomi kaum Muhajirin (pendatang) dengan kaum Anshar atau penduduk asli Madinah agar tidak terjadi gesekan yang dapat menimbulkan konflik sosial.

Salah satu cara yang ditempuh adalah mencermati dan memahami tiap individu para sahabatnya. Kemudian menempuh cara merger. Menggabungkan masing-masing individu (keluarga) Muhajirin dipasangkan dengan individu (keluarga) kaum Anshar dengan memperhitungkan potensi masing yang jika disinergikan akan memberikan kemaslahatan bagi keduanya.

Salah satu hasil merger itu adalah menyatukan sahabat Salman al-Farisi, seorang bisnismen lajang yang cerdas, energik, dan visioner, dengan keluarga Abu Darda petani kaya yang rajin dan produktif. Alhasil “keluarga baru” tersebut berhasil menjadi ikon kemajuan ekonomi pada masa itu yang tidak sedikit mengisi kocek Baitul Mal dengan besaran ZIS (zakat infak sedekah) yang dikeluarkan dari keuntungan konglomerasi perdagangan hasil buminya.

Sahabat Abu Darda dikenal sebagai seorang petani yang sangat saleh dalam beribadah dan zuhud (sederhana) dalam hidup kesehariannya. Dia sangat rajin berpuasa sunah meskipun siang harinya tetap semangat bekerja di ladangnya. Ketika perusahaannya makin maju dan berkelimpahan keuntungan justru menjadikan Abu Darda makin tekun beribadah. Puasa sunah di siang hari dan dzikir serta solat tahajud tak pernah lalai.

Sahabat Abu Darda mempunyai seorang istri yang cantik, pandai bersolek, dan sangat berbakti. Sampailah pada suatu hari Salman pulang ke rumah sahabatnya dari kunjungan bisnis ke berbagai daerah. Secara tak sengaja dia perhatikan isteri sahabatnya itu ada yang berbeda.

“Mbakyu, maaf ya, kok mbakyu sekarang berubah ?” kira-kira begitu pertanyaannya.

“Apanya yang berubah ? Dik Salman ada-ada saja”, jawabnya.

“Ada apa ? Biasanya mbakyu selalu berpakaian rapi sekarang kok tumben nggak seperti dulu,” sanggah Salman.

“Oo itu, ya buat apa berdandan rapi wong sudah tua dan tidak diperlukan lagi”, keluh Bu Darda. “Kangmas Darda sudah tidak butuh. Dia siang selalu puasa kalau malam dzikir dan tahajud sampai menjelang subuh.”

Singkat cerita, Salman mengerti. Ada masalah dalam hubungan suami-isteri sahabatnya itu. Dia pun merasa perlu untuk membantu memecahkan masalah keluarga kolega bisnisnya itu.
Saat sarapan pagi dihidangkan, sebagaimana biasa Abu Darda menemani kolega bisnisnya. Tapi hidangan hanya satu porsi.

“Mas mana makanan njenengan kok cuma satu porsi?” Tanya Salman pura-pura heran.
“Saya puasa dik, silahkan sarapan sambil saya temani ngobrol,”, jawab Abu Darda.
“Nggak ah, kalau mas Darda puasa saya juga mau puasa hari ini,” kata Salman.

Demi menghormati saudara yang ‘diamanatkan’ Rasulullah, hari itu Abu Darda membatalkan puasa sunahnya. Saat malam hari, mereka berdua menyelesaikan perhitungan catatan dan hadil bisnisnya Abu Darda mempersilahkan Salman istirahat di paviliun rumahnya.

“Beristirahatlah dik Salman, kau pasti capek sepulang dari bepergian jauh,” ujarnya.

“Lha njenengan ya istirahat juga mas,” kata Salman memancing.

Nggak dik saya mau menyelesaikan amalan dzikirku yang hampir selesai sekalian nanti qiyamul lail,” jawabnya.

“Kalau begitu saya ikut njenengan saja malam ini,” jawab Salman.

Abu Darda kaget dan menatap mata sahabatnya.

“Mas Darda, saya tahu akhir-akhir ini njenengan tekun beribadah. Siang puasa dan malam dzikir. Tapi njenengan punya istri. Mbakyu punya hak atas njenengan. Jangan karena ingin beribadah tapi dzolim dengan hak orang yang jadi tanggungjawab kangmas,” begitu Salman menasihati.
Abu Darda terkejut dan tertegun. Sesaat dia membisu lalu mengangguk.

Astaghfirullah, terimakasih dik Salman telah mengingatkan kakakmu yang khilaf,” usap Abu Darda sambil memeluk sahabatnya.

Nah, mengapa relasi persaudaraan yang diinisiasi Rasulullah itu dapat begitu harmonis sehingga ketika ada masalah dalam kehidupan mereka dapat saling mengingatkan? Bahkan untuk persoalan yang sangat pribadi sekalipun?

Setidaknya ada 5 prinsip dasar yang mereka pegang teguh. Berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarga dan orang lain, selalu bersikap khusnudzon kepada siapapun, berani jujur dengan diri sendiri, ikhlas dalam beramal dan selalu santun jika bertuturkata.

Berbeda pendapat dan bersikap dengan orang lain sudah menjadi sunnatullah. Tetapi bagaimana yang sudah menjadi niscaya itu dijalani dalam kehidupan dengan menjunjung akhlaqul karimah, itu yang jadi tantangan saat ini. Untuk itulah Rasulullah Muhammad Ibnu Abdullah saw diutus. innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq Sungguh aku diutus mligi hanya untuk menyempurnakan (berbagai) kemuliaan akhlak (manusia).

Wallahu muwaffiq ilaa aqwamitthoriq.

Waktu dluha, 20 Sya’ban 1439.

Ir. H. Masjhud Rahmi, Ketua Umum Yayasan Miftahul Huda Kroya

 

Satu tanggapan untuk “Belajar dari Sahabat Salman al-Farisi dan Abu Darda

  • 16 Mei 2018 pada 14:18
    Permalink

    Tulisan bernas. Angat mencerahkan dan bermanfaat. Moga tulisan lainnya segera hadir dan saya bisa menikmatinya.

    Balas

Tinggalkan Balasan ke Fahrur rozi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: